Penulis:  Remy Sylado

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal:  672 halaman

Agonia.. Dalam bahasa inggris tertulis agony yang artinya penderitaan, perjuangan, sakit yang mendalam…

Tentunya selalu ada penderitaan dalam perjalanan setiap dari kita sebagai manusia. Novel ini berawal dari kisah cinta monyet dua remaja muda, dan berlanjut hingga menjadi sangat kompleks. Budaya freesex pada remaja zaman sekarang, akses metropolitan yang mendukungnya, hingga dinamika kedua keluarga yang menyajikan sebuah perspektif budaya antara si kaya yang angkuh dan si miskin yang kriminim..

Kompleksitas terus berlanjut terbawa hingga ranah politik yang licik, ataupun jika tidak terlihat suci namun berbau busuk didalamnya, dan hemmm… syukurlah sisi baik demokrasi terangkat dalam novel ini melalui politikus yang berjiwa jujur dari hatinya. Meskipun di akhir mereka (para politikus baik) menjadi martir korban kekejaman para penguasa (penguasa=banyak uang). Novel ini menyampaikan kritik sosial yang sangat mengena! Praktek korupsi, kolusi, nipotisme menjadi hal biasa.. Pembunuhan?! juga hal yang biasa… Agonia memang..

Makna agony sebagai sakit yang luar biasa di pertegas dengan kisah keinginan balas dendam yang tidak logis, kepercayaan terhadap iblis/ setan/ jampi-jampi dan semacamnya.. Perilaku manusia yang lebih mirip hewan daripada seharusnya manusia berakal. Dengan sangat elegan, Remy Sylado dapat menggambarkan manusia dengan segala sifat kehewaniannya dan kemanusiaannya. Terihat jelas bagaimana kompleksnya manusia itu..

Di tengah kesemua agonia ini…. Meskipun hampir 70% Remy Sylado menceritakan tentang rasa sakit, Novel ini dengan sangat indah mengajarkan kita pada sebuah arti keberanian dan ketangguhan manusia dalam mempertahankan diri. Mengenalkan arti Tuhan… Mengapresiasi seni (seni rupa, seni musik, tarian, dan bahkan seni bertelanjang!)… apalagi  penggambaran lintas geografis antara Indonesia, Belanda dan Prancis… Woooww…! membuat para pembacanya berimajinasi dan ingin segera melihat sendiri dan berbahasa kesana…

Boulevard de Clichy.. Digambarkan oleh Remy Sylado sebagai sebuah tempat bagai 2 mata sisi uang, di salah satu sisi tempat dosa para wanita telanjang, salah satu sisi pula pusat apresiasi seni tari terkemuka. Salah satu sisi tempat mengumbar syahwat, salah satu sisi menjadi inspirasi paling berpengaruh para pelukis besar. Menjadi lahan berdosa.. Dan menjadi lahan bertobat…

Manusia memang hidup dalam pilihannya.. dan harus memilih memang.. Diantara segala agonia, manusia tetap memilih dan menyemai…

VERY RECOMMENDED !!!
Ananda Lagzo, 21 july 2010

Leave a Reply