Judul Buku : The White Tiger
Penulis : Aravind Adiga
Penerbit : ANDI
Harga :
Tebal : viii + 360 halaman, 14 x 21 cm
“Maaf, maaf, maaf.”
“Aku tidak bisa menjalani sisa hidupku dengan terkurung dalam kandang, Nenek. Aku sungguh minta maaf.”
Deskripsi singkat :
Novel ini menceritakan pengalaman hidup seorang India bernama Balram Halwai. Hidup di kegelapan India, Bangalore. Kemiskinan, tertindas, ter-kasta-kan, dan tanpa masa depan, adalah nilai yang membudaya di Bangalore. Tetapi, julukan dari seorang Sosialis Agung di masanya, membuat dia merasa harus merubah jalan hidupnya sendiri. Julukannya adalah: Harimau Putih! Seekor hewan langka yang konon hanya muncul sekali dalam satu generasi.
Masa kecil yang tidak berpendidikan cukup karena harus putus sekolah untuk membiayai pernikahan kakak perempuannya, dan ayah yang hanya bekerja sebagai penarik rickshaw. Membuat Balram berpikir bahwa definisi sukses tertinggi adalah menjadi sopir di kota, Delhi. Akan tetapi setelah perjuangannya berhasil menjadikannya seorang sopir di kota, Balram mengetahui kenyataan bahwa politik di Negaranya sudah begitu bobroknya. Suap-menyuap, yang merugikan banyak orang menjadi hal yang wajar.
Alih-alih, melakukan perubahan. Balram memilih untuk menggorok leher majikannya, Ashok, yang begitu baik dan sangat dipuja Balram. Untuk membuat dirinya menjadi seorang Harimau Putih!
Nilai tambah :
Warna cover yang hanya terdiri dari warna: hitam, putih, merah, dan oranye, dengan design yang sederhana membuat novel ini sangat menarik perhatian. Cetakan fisik juga bagus.
Isi cerita yang menggambarkan India tentu sangat menarik untuk disimak. Kebudayaan, gaya hidup, makanan, dan nilai- norma India begitu kental, di deskripsikan begitu baik oleh penulis.
Drama kehidupan yang disajikan juga sangat menggugah hati. Terutama, bagi saya, disaat Balram berperang dengan dirinya sendiri untuk membunuh majikannya, Ashok, yang begitu baik pada dirinya, bahkan satu-satunya orang yang baik kepada Balram. Keinginannya untuk mengejar impiannya, hingga mengorbankan nyawa keluarga di desanya. Sangat menginspirasi untuk di refleksikan, tidak untuk ditiru!
Manfaat :
Beberapa yang bisa diambil dari novel ini, “Saat batu masalah terlalu besar dan keras untuk dihancurkan, jangan hancurkan! Ambil dan pakailah untuk melempar.” Setiap orang selalu mempunyai pilihan untuk menghadapi masalahnya. Saat Balram mengetahui kenyataan buruk politik di negerinya, Balram bukannya melawan secara konfrontatif, tetapi malah memanfaatkan kebusukan politik itu untuk menjadi pelindung atas kejahatannya. Setelah menjadi elite, Balram justru menjadi orang yang “baik”. Sangat menarik untuk di refleksikan, sekali lagi tidak untuk ditiru! :p
Kesungguhan mengejar impian juga menjadi nilai tambah pada novel ini, apalagi dibumbui “cara unik” untuk mencapainya, menjadikan novel ini PANTAS, mendapatkan penghargaan “The Man Booker Prize.”
VERY RECOMMENDED !!!!
Ananda Lagzo, July 24, 2010









